Jambi, 29 September 2025 – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi kembali menorehkan prestasi akademik di kancah internasional. Pada Senin, 29 September 2025, salah satu dosen mudanya, Muhammad Amin Qodri Syahnaidi, M.Pd., menjadi pembicara dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh UIN Datokarama Palu bekerja sama dengan 9 Prodi PAI se-Indonesia, termasuk Prodi PAI UIN Jambi. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom pada pukul 09.00–13.00 WITA.

Seminar internasional yang mengusung tema “Love-Based Curriculum and Holistic Education: Efforts to Realize the Islamic Golden Generation 2045” menghadirkan lima pembicara dari berbagai perguruan tinggi. Salah satunya adalah dosen muda Prodi PAI UIN Jambi, Muhammad Amin Qodri Syahnaidi, yang menyampaikan materi bertajuk “Integration of Spirituality, Morality, and Knowledge in Holistic Education”
Dalam presentasinya, ia mengawali dengan paparan mengenai fenomena split personality pada peserta didik di Indonesia yang berakar dari dekadensi moral. Menurutnya, salah satu penyebabnya ialah sistem pendidikan yang masih terfragmentasi, cenderung menitikberatkan pada aspek kognitif, namun sering mengabaikan dimensi moral dan spiritual.
Lebih lanjut, ia menjelaskan konsep spiritualitas, bentuk-bentuknya, serta perbedaan antara spiritualitas dan religiusitas. Ia juga menelusuri perkembangan penggunaan istilah spiritualitas di Indonesia, sebelum menguraikan konsep spiritualisme Islam. Paparan kemudian berlanjut pada konsep moralitas, termasuk pandangan para ahli serta pentingnya pendidikan akhlak di era digital. Hal ini dinilainya mendesak mengingat maraknya fenomena hate speech, disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) yang kerap mewarnai media sosial.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya memahami konsep ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam yang menolak adanya dikotomi ilmu. Ia memaknai iqro sebagai membaca, eksplorasi, observasi, eksperimen serta segala aktivitas yang bertujuan untuk memproduksi dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Iqro tersebut diarahkan untuk menganalisis ayat ayat qauliyah dan kauniyah. ia menjelaskan jika iqro diterapkan kepada teks al-Qur’an dan al-Hadits maka akan menghasilkan al-ulum al-islamiyah/islamic sciences seperti al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlak, Tafsir, dsb. Ketika iqro diterapkan kepada alam semesta maka akan menghasilkan al-ulum al-kauniyah/natural sciences seperti fisika, kimia, biologi, dsb. Ketika iqro diterapkan kepada struktur dan relasi sosial di dalam masyarakat, maka akan menghasilkan al-ulum al-ijtimaiyah/social sciences seperti sosiologi, antropoligi, ekonomi, dsb. Ketika iqro diterapkan kepada manusia, maka akan menghasilkan al-ulum al-insaniyah/humanities seperti ilmu bahasa dan sastra.
Ia menegaskan bahwa seluruh cabang ilmu—baik ilmu-ilmu keislaman, ilmu alam, ilmu sosial, maupun humaniora—pada hakikatnya bersumber dari Allah Swt. Ia juga mencontohkan praktik integrasi keilmuan yang telah dikembangkan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Di bagian akhir, Muhammad Amin Qodri Syahnaidi memaparkan konsep pendidikan holistik integratif yang menggabungkan spiritualitas, moralitas, dan ilmu pengetahuan. Konsep ini mencakup tujuan pendidikan, materi, metode, evaluasi, hingga peran pendidik dan peserta didik, serta budaya sekolah yang mendukung terciptanya pendidikan holistik integratif.
Keterlibatan dosen muda Prodi PAI UIN Jambi dalam seminar internasional ini menjadi bukti nyata kontribusi Prodi PAI dalam percakapan akademik global, sekaligus mempertegas komitmen untuk terus mengembangkan kajian pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman dan visi mencetak generasi emas 2045. (MAQS)

