Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan mewarnai kegiatan Temu Sapa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di CGC Wing B, Sabtu, 26 September 2026.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara dosen dan mahasiswa, sekaligus membangun komunikasi yang lebih dekat dalam suasana akademik. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat para dosen, mendapatkan informasi akademik, serta memperoleh motivasi dalam menjalani proses pendidikan di Program Studi PAI.
Tidak sekadar menjadi agenda peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, temu sapa ini menghadirkan suasana yang lebih hangat dan terbuka. Dosen dan mahasiswa dapat berinteraksi, berbagi pengalaman, serta membangun semangat bersama untuk menjadikan Program Studi PAI sebagai ruang tumbuh bagi mahasiswa, baik secara akademik maupun dalam pembentukan karakter.
Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam, Islmail Fahri, S.Ag., M.Ag., dalam sambutannya mengajak mahasiswa untuk menjalani proses akademik dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami berbagai pilihan dan ketentuan akademik yang dapat ditempuh dalam menyelesaikan studi.
Ia juga menjelaskan bahwa terdapat jalur penyelesaian studi melalui publikasi artikel ilmiah pada jurnal yang memenuhi ketentuan akademik, termasuk peluang melalui jurnal SINTA 2, yang dalam ketentuan tertentu dapat menjadi alternatif penyelesaian tugas akhir sebagai pengganti skripsi. Namun, mahasiswa perlu mengikuti persyaratan dan ketentuan akademik yang berlaku di perguruan tinggi dan program studi.
“Mahasiswa perlu mengetahui bahwa ada jalur cepat dalam penyelesaian studi melalui publikasi ilmiah, termasuk melalui jurnal SINTA 2 sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, yang paling penting bukan hanya cepat selesai, tetapi bagaimana mahasiswa benar-benar memahami proses akademiknya dan menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas,” ujar Islmail Fahri.
Menurutnya, kesempatan tersebut hendaknya dipandang sebagai motivasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik dan menulis ilmiah sejak dini. Mahasiswa yang memiliki kemampuan menulis dan kesiapan akademik dapat memanfaatkan peluang tersebut dengan tetap mengikuti prosedur dan persyaratan yang telah ditetapkan.
“Mahasiswa PAI harus memiliki semangat belajar, disiplin akademik, serta karakter yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan Islam. Kampus bukan hanya tempat memperoleh ijazah, tetapi tempat membangun kompetensi dan kepribadian,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan. Ada proses belajar, perjuangan, pengalaman, dan bahkan kesalahan yang menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa menuju kematangan akademik dan pribadi.
Sementara itu, Sekretaris Program Studi Pendidikan Agama Islam, Tantowi, S.Pd.I., M.Pd., memperkenalkan para dosen yang menjadi bagian dari homebase Program Studi PAI. Pengenalan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan antara mahasiswa dan dosen yang akan mendampingi mereka selama menjalani proses akademik, mulai dari perkuliahan, penelitian hingga penyelesaian tugas akhir.
Tantowi juga mengajak mahasiswa untuk membangun komunikasi yang baik dengan dosen. Menurutnya, komunikasi yang terbuka akan membantu mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan akademik sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman dan saling mendukung.
Mendorong Budaya Menulis dan Belajar dari Proses
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Pendamping Jurnal Program Studi PAI, Edi Saputra, M.Ed., turut memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk mulai membangun budaya menulis dan berani menghasilkan karya ilmiah.
Edi mengingatkan mahasiswa agar tidak terlalu terburu-buru mengejar publikasi melalui jalur fast track. Menurutnya, proses reguler memberikan ruang yang lebih luas untuk belajar, terutama ketika tulisan mendapatkan masukan dari reviewer dan harus melalui proses revisi.
“Jangan hanya mengejar cepat terbit. Ada proses belajar dari reviewer. Ketika tulisan mendapatkan masukan, di situlah kita belajar memperbaiki dan meningkatkan kualitas tulisan,” kata Edi.
Menurutnya, menulis bukan sekadar menghasilkan sebuah artikel, tetapi merupakan proses membangun cara berpikir ilmiah. Mahasiswa belajar menyusun gagasan, mencari referensi, memperkuat argumentasi, menerima kritik, melakukan perbaikan, dan terus mencoba.
Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan Akademik
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan Temu Sapa tersebut. Momentum ini dimanfaatkan untuk kembali mengenang dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai kejujuran, amanah, kesabaran, tanggung jawab, kasih sayang, serta semangat menuntut ilmu menjadi nilai yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa Pendidikan Agama Islam.
Sebagai calon pendidik, mahasiswa PAI tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan kepribadian yang baik. Ilmu yang diperoleh di kampus diharapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi mampu diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Temu Sapa dan Maulid Nabi Muhammad SAW akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebuah pertemuan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk saling mengenal, saling menguatkan, dan menumbuhkan semangat bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk terus berkembang.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam terus berupaya membangun suasana akademik yang hangat, terbuka, dan inspiratif. Silaturahmi diperkuat, semangat belajar ditumbuhkan, budaya menulis dikembangkan, dan keteladanan Rasulullah SAW dihadirkan sebagai inspirasi dalam perjalanan akademik mahasiswa. (ES)